Assalamu'alaikum ,  welcome  |  sign in  |  registered now  |  Nurisfm Network

DONASI DAKWAH RADIO/TV KOMUNITAS NURISFM

Menyelami Hikmah Puasa

Written By rudi anto on Selasa, 24 Juli 2012 | 22.01


Alhamdulillah, segala puji hanyalah bagi Allah SWT. Setiap tarikan nafas adalah nikmat bagi kita,
sekaligus amanah untuk kita pertanggung jawabkan. Apakah setiap detak kehidupan
membuahkan amal dan kebaikan, ataukan justru catatan keburukan yang memilukan ? Shalawat
serta salam marilah kita haturkan kepada Rasulullah Muhammad SAW nabi Junjungan, yang
setiap detak kehidupannya dipenuhi dengan panduan kemuliaan, uswah dan teladan bagi kita
semua. Semoga kita diberikan nikmat bertemu dengannya di akhirat nanti. Amin


Jamaah sekalian rahimakumullah ...
Salah satu yang membuat kita termotivasi untuk beramal adalah ketika kita mengetahui dan
meyakini sepenuhnya, manfaat dan hikmah dari sebuah amalan tersebut. Begitu pula dengan
ibadah kita di bulan Ramadhan, agar tetap bersemangat hingga akhir Ramadhan perlu rasanya
kita meyakini dan memahami beragam hikmah di bulan yang mulia ini khususnya hikmah puasa
Ramadhan. Sungguh di luar sana, masih banyak yang mengisi Ramadhan tanpa semangat, hanya
ikut-ikutan penuh keterpaksaan, salah satunya karena gagal dalam menyelami hikmah
Ramadhan dan kewajiban puasa di dalamnya.


Jamaah sekalian rahimakumullah ...
Untuk itulah, mari sejenak kita bahas dalam kesempatan kali ini, beberapa hikmah dari banyak
hikmah yang terkandung dalam bulan Ramadhan, dan semoga ini bisa menjadi penyemangat

kita, agar amaliyah Ramadhan kita stabil dan bahkan terus meningkat. Diantara hikmah
Ramadhan adalah sebagai berikut :


Pertama : Ramadhan sebagai Training Keikhlasan
Puasa adalah ibadah yang melatih keikhlasan. Maka puasa Ramadhan selama sebulan adalah
training keikhlasan yang sangat efektif. Sejak awal Rasulullah SAW menjelaskan betapa ibadah
puasa benar-benar jalur langsung antara seorang dengan Tuhannya. Puasa menjadi ibadah yang
begitu mulia karena langsung dinilai oleh Allah sang Maha Mulia. Beliau meriwayatkan firman
Allah SWT dalam sebuah hadits Qudsi :


“ Setiap amal manusia adalah untuknya kecuali Puasa, sesungguhnya (puasa) itu untuk-Ku, dan
Aku yang akan membalasnya “ ( HR Ahmad dan Muslim).


Jamaah sekalian rahimakumullah ...
Ibadah Puasa melatih kita untuk ikhlas dalam arti yang paling sederhana, yaitu : beramal hanya
karena Allah SWT, mengharap pahala dan keridhoan-Nya. Betapa tidak ? Hampir semua ibadah
bisa dideteksi dengan mudah oleh semua manusia, kecuali puasa. Orang menjalankan sholat
dan zakat bisa dengan mudah terlihat dengan mata telanjang. Apalagi ibadah haji, rasa-rasanya
satu kampung pun bisa mengetahui kalau salah satu kita menunaikan ibadah haji. Berbeda
dengan puasa, yang hampir-hampir tidak bisa diketahui oleh orang lain karena kita ‘sekedar’
menahan tidak makan minum dan berhubungan badan.


Artinya, dalam puasa kita dipaksa untuk ‘ikhlas’ menjalani itu semua hanya karena Allah SWT.
Sekiranya bukan karena ikhlas, akan sangat mudah bagi seseorang untuk mengelabui keluarga
atau teman-temannya. Ia bisa ikut sahur dan juga berbuka bersama keluarga, tapi di siang hari
mungkin saja menyantap lahap makanan di warung langganannya. Kita semua juga bisa
berakting puasa dengan mudah, tapi lihatlah : tidak pernah terbersit dalam hati kita untuk
menjalani puasa dengan modus semacam itu. Subhanallah, inilah training keikhlasan terbaik
yang pernah kita dapati. Sebulan penuh merasa di awasi dan beramal hanya karena Allah SWT.


Mari kita sedikit berangan, seandainya kaum muslimin di Indonesia bisa mengambil sedikit saja
oleh-oleh keikhlasan samacam ini untuk bulan-bulan selanjutnya, bisa kita bayangkan angka
kejahatan, korupsi dan sebagainya insya Allah akan menurun drastis. Karena mereka semua
merasa di awasi oleh Allah SWT, lalu menjalankan ketaatan dengan ikhlas sebagaimana
meninggalkan kemaksiatan juga dengan ikhlas. Subhanallah


Jamaah sekalian rahimakumullah ...
Kedua : Ramadhan untuk Training Keistiqomahan
Momentum Ramadhan yang penuh dengan berbagai amalan –dari pagi hingga malam hari- mau
tidak mau, suka tidak suka, akan membuat seorang berlatih untuk istiqomah dalam hari-hari
selanjutnya. Kita semua benar-benar menjadi orang yang sibuk dalam bulan Ramadhan. Bangun


di awal hari untuk sholat malam dan sahur, kemudian siang hari yang dihiasi tilawah dan
dakwah, belum lagi malam hari yang bercahayakan tarawih dan tadarus. Semua kita lakukan
dalam tempo sebulan penuh terus menerus. Sebuah kebiasaan tahunan yang nyaris tidak kita
percaya bahwa kita bisa menjalaninya. Semangat beribadah kita benar-benar dipacu saat
memulai Ramadhan. Bahkan Rasulullah SAW memberikan panduan agar melipatgandakan
semangat saat akan melepas bulan mulia tersebut. Dari Aisyah ra, ia berkata :

adalah Nabi SAW ketika masuk sepuluh hari yang terakhir (Romadhon), menghidupkan malam,

membangunkan istrinya, dan mengikat sarungnya (ungkapan kesungguhan dan kesiapan dalam
beribadah) (HR Bukhori dan Muslim)


Bila training keistiqomahan ini kita resapi dengan baik, maka kita akan terbiasa beramal secara
terus menerus dan berkelanjutan dalam bulan yang lain. Segala halangan dan rintangan akan
teratasi dengan sempurna karena semangat istiqomah yang telah tertempa dalam dada kita.
Pada bulan-bulan berikutnya, saat lelah melanda, ada baiknya kita mengingat kembali semangat
kita yang menyala-nyala dalam bulan Ramadhan. Untuk kemudian bangkit dan melanjutkan
amal dengan penuh semangat !


Jamaah sekalian rahimakumullah ...
Ketiga : Ramadhan sebagai Training Ihsan
Syariat kita mengajarkan untuk optimal atau ihsan dalam setiap ibadah. Tak terkecuali dengan
ibadah puasa Ramadhan. Setiap kita diminta untuk meniti hari-hari puasa dengan penuh
ketelitian. Menjaganya dari segala onak yang justru akan memporakporandakan pahala puasa
kita. Rasulullah SAW telah mengingatkan :

" Betapa banyak orang yang berpuasa, tapi tidak mendapatkan dari puasanya kecuali hanya
rasa lapar. Dan betapa banyak orang yang sholat malam, tapi tidak mendapatkan dari
sholatnya kecuali hanya begadang " (HR Ibnu Majah)
Ini artinya, hari-hari puasa kita haruslah penuh kehati-hatian. Menjaga lisan, pandangan dan

anggota badan lainnya dari kemaksiatan. Sungguh berat, tapi tiga puluh hari latihan seharusnya
akan membuat kita melangkah lebih ringan dalam hal ihsan pada bulan-bulan selanjutnya.
Bahkan semestinya, perilaku ihsan ini memang menjadi branding kaum muslimin dalam setiap
amalnya.


Jamaah sekalian rahimakumullah ...
Akhirnya, sungguh masih banyak hikmah lain yang terserak sedemikian rupa dalam titian tiga
puluh hari yang mulia ini. Tidak ada pilihan lain bagi kita kecuali mengais hikmah-hikmah
tersebut dari hari ke hari Ramadhan kita, untuk kemudian menjadikannya sebagai simpanan
dalam menyambut bulan-bulan berikutnya. Mari memulai dari keinginan tulus dalam hati untuk
mensukseskan Ramadhan tahun ini. Lalu diikuti dengan kesungguhan dalam mengisinya bahkan
hingga saat hilal Syawal menjelang. Agar kegembiraan yang dijanjikan bisa kita dapatkan.
Rasulullah SAW bersabda :
Bagi orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kegembiraan yaitu kegembiraa ketika dia
berbuka dan kegembiraan ketika berjumpa dengan Rabbnya. (HR Bukhori)

Wallahu a’lam bisshowab.

0 komentar:

Poskan Komentar